ilustrasi matahari

Fakta dan Mitos Menarik Tentang Gerhana Matahari

By | Update Terakhir : March 7, 2017

ilustrasi matahari

Gerhana Matahari adalah sebuah peristiwa fenomena alam yang terjadi antara matahari, bulan, dan bumi. Menurut ahli astronomi, gerhana matahari adalah jatuhnya bayang-bayang bulan ke bumi karena terhalangnya sinar matahari ke bumi oleh bulan. Terjadinya gerhana matahari ini tidak berlangsung lama. Ada yang hanya 3 menit sampai 7 menit. Mengapa bulan yang kecil dapat menutupi cahaya matahari yang besar? Karena jarak bulan lebih dekat dengan bumi yaitu 384.400 km.

Sedangkan jarak ke matahari adalah 149.680.000 km. Gerhana matahari terakhir kali terjadi di Indonesia pada hari rabu 9 maret 2016. Biasanya semua orang akan keluar rumah untuk menyaksikan fenomena langka ini karena fenomena tersebut sangat jarang terjadi. Namun dibalik fenomena langka tersebut terdapat beberapa fakta dan mitos untuk diketahui. Berikut adalah fakta dan mitos menarik tentang fenomena gerhana matahari:

Fakta Tentang Gerhana Matahari

  • Terjadi 300 Tahun Sekali

Terjadinya Gerhana matahari total adalah peristiwa langka. Tak diketahui periode pasti fenomena tersebut akan terjadi dan berulang di satu daerah. Hanya ada hitungan pola 18-19 tahun, sesuai dengan periode Saros atau siklus gerhana. Namun, jalurnya berbeda. Berdasarkan perhitungan kasar, gerhana matahari total hanya akan terjadi sekitar 300 tahun sekali di satu daerah, kata Thomas Djamaluddin. Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka termasuk yang sungguh beruntung. Kejadian terakhir pada 1988 dan berulang pada 2016, jadi hanya 28 tahun. Di daerah lain 300 tahun.”

  • Bukan Fenomena Berbahaya

Kepala Lapan Thomas Djamaluddin menegaskan, gerhana matahari total adalah fenomena yang luar biasa. Bukan peristiwa penuh marabahaya. Yang membahayakan itu, kalau kita tidak berhati-hati melihatnya,” kata dia. Alumni Kyoto University tersebut menambahkan, pada saat gerhana sebagian, secara refleks mata sudah merasa silau. “Maka jangan dipaksakan atau berlomba melihat matahari secara langsung.

Pada saat gerhana total, tambah Thomas, justru paling bagus melihat langsung. Tanpa kaca mata, tak perlu pakai filter. “Asal berhati-hati. Yang paling riskan adalah peralihan fase total ke fase sebagian, saat Bulan mulai bergeser, cahaya matahari yang walau baru muncul sedikit sudah sangat kuat. Padahal, pupil mata kita sedang membesar,” jelas dia. Hal itu bisa merusak retina.

  • Pengaruh Gerhana Matahari Total pada Bumi

Saat Bulan menutupi Matahari, temperatur lokasi yang dilintasi gerhana di Bumi akan turun sesaat selama GMT berlangsung. Penurunan sekitar 3º Celsius. Pada saat temperatur turun, uap air jadi lebih mudah berkumpul sehingga pembentukan awan menguat. Saat GMT terjadi, hewan akan berperilaku seakan malam tiba. Karena itu, hewan malam akan bersiap-siap ke luar dan hewan yang berkeliaran di siang hari akan bersiap tidur. Untuk jangka pendek dan jangka panjang, tidak ada pengaruh apapun dari Gerhana Matahari total.

  • Pertama di RI pada Abad ke-21

Peristiwa gerhana matahari total bukan kali pertamanya terjadi di Indonesia. Fenomena itu pernah ada pada tahun 1983, 1988, dan 1995. Namun, Thomas Djamaluddin mengatakan, gerhana matahari total 2016 adalah yang pertama terjadi pada Abad ke-21 di Indonesia. Gerhana matahari berikutnya akan terjadi di Indonesia pada 2019, yakni gerhana matahari cincin. Sementara, gerhana matahari total berikutnya baru melintas di wilayah Nusantara pada 20 April 2023.

  • Menguji Teori Einstein

Gerhana matahari total yang akan terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016 juga menjadi perhatian ilmuwan dunia. Thomas Djamaluddin mengatakan, para ilmuwan Lapan akan berkolaborasi dengan para ahli asing, termasuk dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Menurut Thomas, fenomena gerhana matahari total adalah kesempatan bagi para peneliti untuk melakukan sejumlah riset: terkait fisika matahari maupun fisika umum. Pun kajian dampak dan keantariksaan. “Juga sering dijadikan pembuktian teori relativitas Einstein. Bahwa suatu benda bisa membelokkan cahaya,” tambah dia.

Mitos Tentang Gerhana Matahari

  • Dewa Marah

Jaman Yunani Kuno, gerhana matahari dianggap sebagai pertanda bahwa dewa-dewi marah dan akan terjadi bencana. Kata eclipse (gerhana) berasal dari kata Yunani Kuno “ekleipsis” yang berarti diabaikan.

  • Jangan Makan Saat Terjadi Gerhana Matahari

Di beberapa wilayah India, warga setempat tidak makan saat terjadi gerhana matahari. Ada kepercayaan, bahwa makanan yang dimasak saat gerhana akan menjadi beracun dan najis.

  • Perempuan Hamil Tidak Boleh Keluar Rumah

Mitos yang masih populer di beberapa negara adalah perempuan hamil yang berada di tempat terbuka saat gerhana, bayinya akan buta atau berbibir sumbing saat dilahirkan. Krupp dari Griffith Observatory menegaskan, “Ini hal yang tidak masuk akal.”

  • Matahari Dimakan

Di banyak negara, banyak mitos yang mengisahkan bahwa matahari dimakan atau dicuri saat terjadi gerhana. Seperti legenda bangsa Viking tentang Dewa Matahari “Sol” yang dikejar serigala Skoll. Saat hewan berhasil menangkapnya, gerhana matahari terjadi. Penduduk kemudian diminta untuk membuat kegaduhan, dengan memukul panci dan wajan, agar serigala ketakutan dan mengembalikan matahari.

  • Gerhana Matahari Akan Berakhir

Ini tidak sepenuhnya salah. Akan tiba saatnya, bumi tidak lagi mengalami gerhana matahari. Sekitar 600 juta tahun lagi, bulan diprediksi akan berjarak terlalu jauh dari bumi untuk bisa menutupi matahari. Ini berarti fenomena gerhana matahari akan berakhir.

Demikianlah ulasan mengenai Fakta dan Mitos Menarik Tentang Gerhana Matahari. Semoga dapat menambah wawasan kita serta dapat membedakan mana yang fakta dan juga mana yang mitos dari sebuah fenomena alam terjadinya gerhana matahari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.